IAI Dan Masa Depan Ke-Arsitek-An Indonesia

04-07-2012

Salam Arsitek,

Hingar bingar perdebatan dan perseteruan antara para pendukung kandidat calon ketua IAI nasional yang terjadi sejak akhir Musyawarah Nasional (MUNAS) ke-13 Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di Balikpapan dan dead-lock selama hampir 6 bulan telah usai sudah. Kemarin yang lalu, pada hari sabtu 2 Juni 2012 jam 16.55 Wib di Hotel Bumi Surabaya Jawa Timur telah terpilih sebagai mandatoris Ketua Umum IAI Nasional periode 2012-2015, Munichy Bachron Edress,IAI dari perwakilan IAI Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan beralasan keterbatasan waktu penyelenggaraan ataupun alasan yang lain, serah terima pucuk pimpinan yang lama (demisioner) ke pimpinan baru yang terpilih pun telah berlangsung pula meski dengan singkat. Namun serbuan ucapan selamat bagaikan air bah tetap menimpa sang pemimpin yang baru ini. Hal yang membedakan kejadian tempo hari dengan kejadian-kejadian pemilihan ketua umum periode-periode yang lalu adalah serbuan ucapan selamat dilakukan oleh sebagian besar kontingen peserta perwakilan dari daerah. Pertanyaan wajar menanggapi hal itu, “Apa gerangan yang terjadi?”. Tapi biarlah itu berlalu, let it be will be the show must be go on.

Adalah satu babak baru kepemimpinan yang telah lama dinantikan oleh sebagian besar anggota IAI di daerah saat ini mulai digelar. Satu babak yang mengharapkan terjadinya perubahan dalam memandang dan menempatkan arsitek beserta arsitekturnya dalam koridor Nusantara yang merupakan kesatuan dari beragam adat, budaya, letak geografis dan lokasi yang berkepulauan, cara pandang kebiasaan hingga kebisaan mereka. Adalah babak harapan baru pula dalam rangka memperjelas status profesi arsitek indonesia di mata dunia, khususnya pada forum Arcasia yang akan digelar di Bali bulan Oktober-November 2012 yang akan datang dalam rangka menyongsong era pasar bebas bidang konstruksi tahun 2015. Satu harapan babak baru juga dalam rangka memperjelas status arsitek indonesia di mata bangsanya sendiri yang hingga saat kini dan menjadi satu-satunya profesi arsitek di kawasan asia tenggara yang belum terlindungi payung hukum yang jelas, yakni berupa Undang-undang Arsitek. Tentunya pula tidak ketinggalan dalam harapan-harapan tersebut terkait status pendidikan profesi arsitek (PPArs) yang telah menjadi salah satu kebijakan program profesi arsitek yang keberadaannya masih ‘tanggung’ (baca: setengah hati; perlu atau tidak perlu; antara ada atau tiada; niat atau terserah)’ dalam penyelenggaraannya. Empat agenda besar tersebut setidaknya harus diemban dan dilaksanakan oleh pemimpin yang baru terpilih ini untuk mewujudkan IAI (baca: arsitek Indonesia) yang profesional, bermartabat dan benar-benar diakui oleh masyarakatnya sendiri ataupun masyarakat bangsa lain.

Penyegaran dan kesegaran adalah sangat diperlukan oleh tubuh, baik itu tubuh fisik apalagi tubuh sebuah organisasi. Penyegaran sangat dibutuhkan dalam tubuh guna mendobrak kekakuan-kekakuan sistem yang bekerja di dalamnya dan menjadikan sistem itu mampu bekerja lebih baik, dimungkinkan lebih efektif bahkan kalo bisa lebih efisien dalam rangka menjadikan tubuh tersebut mampu menghadapi tantangan dan gejolak yang menghadang didepannya. Dalam hal ini, IAI sangat ditunggu perannya dalam turut menentukan arah pembangunan yang berpihak pada issue-issue terkini (sustainable, greenable, save-able energy, dll.) serta kiprahnya dalam menciptakan pemain-pemain peradaban yang maju dengan berkemampuan ‘memasak’ teknologi-teknologi terkini dalam rancangan lingkungan binaan yang integratif namun persuasif. Hal yang mungkin dapat diwujudkan bilamana penyegaran dapat membasahi segenap anggota IAI yang mencapai lebih dari 10.000 anggota dan tersebar merata pada ± 33 provinsi serta beberapa negara. Suatu bentuk kesegaran yang diharapkan dapat dipenuhi dari empat isu agenda utama yang diselesaikan oleh IAI.

Mengutip kredo yang disampaikan rekan sejawat di milis IAI: “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Rapuh dan Runtuh” yang notabene merupakan ajakan untuk berfikir positif dan demokratif dalam memandang persamaan maupun perbedaan yang ada, adalah merupakan kata kunci kita dalam bekerjasama guna menciptakan IAI (baca: arsitek Indonesia) yang profesional, bermartabat dan diakui kredibilitasnya. Sehingga apapun bentuk demokrasi yang hendak dijunjung dalam tubuh organisasi, asas musyawarah dan mufakat hendaknya merupakan bentuk upaya penyelesaian kita yang bukan sekedar konsep idealis semata, namun pada hakekatnya merupakan bentuk jati diri kita sebagai perancang peradaban dalam suatu lingkungan binaan yang senantiasa menempatkan kompromi diatas ke-egosentrisan kita. Hal mana telah ditunjukkan pula oleh rekan-rekan sejawat pendukung masing-masing kandidat dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) IAI di Surabaya tempo hari, yang mampu berkompromi dalam rangka bermusyarawarah mufakat guna menentukan nakhoda IAI Nasional demi agenda kepentingan utama, yakni kebersatuan tubuh IAI Nasional (baca: arsitek Indonesia).

Sebagai penutup atas tulisan singkat ini, boleh-lah harapan dapat disandangkan kepada segenap arsitek Indonesia untuk senantiasa menyatukan tekad untuk menjadikan IAI sebagai wadah yang profesional, bermartabat dan dapat diakui oleh masyarakat kita sendiri sehingga kita dapat bersama-sama menghadapi era keterbukaan pasar kontruksi 2015 dengan kepercayaan diri yang penuh serta mampu menempatkan profesi kita sebagai penyokong pembangunan peradaban masyarakat indonesia yang mandiri dan berdaya saing tinggi. Disamping itu, kepada rekan-rekan yang saat ini ada di dalam kepengurusan IAI di pusat maupun daerah dan berjuang meng-gol-kan Undang Undang Arsitektur yang masih terkantung-katung di grey area di senayan Jakarta, sangat diharapkan dalam satu keterpaduan olah pikir dan upaya guna menyelenggarakan agenda-agenda yang strategis guna merealisasikan perlindungan hukum bagi profesi dan hasil kekayaan intelektual dari karya arsitektur kita.

Namun demikian, Entah karena alasan waktu atau pun alasan yang lain, semoga harapan dan agenda yang telah ada dapat diwujudkan oleh kepengurusan Nasional yang baru ini dengan dukungan penuh dari segenap anggota maupun stakeholder arsitektur Indonesia. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Berkehendak, memudahkan langkah IAI Nasional dalam mewujudkan cita-cita segenap arsitek Indonesia untuk meraih martabat dan pengakuan sederajat dengan arsitek-arsitek seantero dunia. Semoga Tuhan menyertai kita semua.

Wassalam

Dan Salam Arsitek

 

Arief H.Swasono

IAI - 09037