Seminar Surabaya

22-05-2015

KERANGKA ACUAN KERJA
BINCANG ARSITEKTUR

“MEMIKIRKAN KEMBALI PERENCANAAN KOTA SESUAI KONTEKS KEKINIAN”

DI GEDUNG MERAH PUTIH SURABAYA
TANGGAL   30   MEI   2015

I.    LATAR BELAKANG

“ Kota adalah bukan hanya sesuatu yang fisikal ,formal dan morfologikal : kota mengandung institusi-institusi manusia yang menggambarkan suatu tempat yang diharapkan untuk kehidupan.Institusi-institusi ini menyatukan dan merekat hubungan individu-individu,kelompok dan lingkungan fisik   yang mengakomodasi mereka” (NORMAN CROWE)

Melihat  kota Surabaya dalam konteks kekinian tidak bisa dipisahkan dari konteks Surabaya pada masa pra kolonialisme, masa kolonialisme dan masa kemerdekaan, karena ini merupakan  masa perjalanan kota Surabaya, dalam perjalanan masa bangunan gedung atau perumahan telah mengisi ruang- ruang kota  Surabaya. Dalam Sejarah Kota Surabaya dikenal memiliki keistimewaaan tersendiri  sebagai kota Pelabuhan modern, perdagangan dan industry terbesar  pada abad XIX, menurut Howard Dick mengatakan bahwa Surabaya tidak bisa tertandingi oleh kota pelabuhan lainnya, seperti pelabuhan Calcutta, Rangoon, Singapore, Bangkok, Hongkong dan Sanghai. Perkembangan dan pembangunan pada ruang kota Surabaya  pada tahun 1900- 1970 dibagi  dalam  tiga era antara lain ; pertama Era sebelum Belanda datang (pra colonial ),era penjajahan (kolonialisme Belanda ), era kemerdekaan ( era orde lama, zaman orde baru dan reformasi ). Pada masa tersebut telah terjadi pemanfaatan ruang ruang kota, walaupun masih dalam skala kecil sampai skala besar telah terjadi pada era reformasi.

     Pada masa pra penjajahan, sebelum kedatangan penjajah Asing ke kota Surabaya, Surabaya  bernama Hujung Galuh, saat itu penduduk Pribumi mempunyai peranan utama dalam menentukan pemerintahannya sendiri termasuk membangun  dan pengadaan fasilitas perumahan bagi penduduk di ruang ruang kota, ketika Bangsa Asing Masuk ke Indonesia  Pada abad ke 18-19, Bangsa Asing   mulai menguasai dan mempengaruhi kota kota di Indonesia termasuk kota Surabaya. Dalam konteks Surabaya dimana VOC mulai mengadakan pengelompokan pembangunan fisik mengisi ruang ruang yang ada di dalam kota Surabaya dimana hal ini sebagai akibat politik  penjajahan dan pertimbangan keamanan, kebutuhan perumahan orang orang belanda dengan membuka area area baru untuk  permukiman  mereka, awalnya membangun  di daerah selatan kota Surabaya, dan saat itulah juga telah terjadilah pengelompokan  perumahan antara lain ,kelompok masyarakat Belanda, kelompok Masyarakat Cina,kelompok masyarakat Arab dan kelompok masyarakat  Pribumi.

     Pembangunan mulai  berkembang  , maka pada tahun 1915 Dewan Kota mulai menetapkan rencana perbaikan perbaikan lingkungan perumahan dan perumahan rakyat dengan  bekerja sama pihak swasta , baru sekitar Tahun 1917 Dewan Kota memulai pembangunan rumah untuk golongan menengah pegawai negeri di daerah Ketabang,undaaan, Ambengan dan Gubeng. Bukan saja membangun perumahan rakyat tapi Belanda pun mulai memperbesar kawasan kawasan permukiman untuk mereka  yang berada di daerah Pasar Besar yang bangunannya berlantai dua dan simetri,  dan terakhir membangun perumahan khusus untuk orang elit Belanda yang cukup besar dengan halaman yang luasnya 600 m2 perunit  di Daerah Darmo. Setelah Indonesia Merdeka  daerah elit milik Belanda  tersebut banyak ditinggalkan oleh Belanda dan dihuni oleh kaum militer dan sebagian dijual ke masyarakat China, sebagian  menjadi rumah dinas angkatan laut,kompleks angkatan darat ,kompleks kodam brawijaya dan kompleks Pertamina, namun sayang sekali menjelang abad ke 20 daerah elit tersebut berubah fungsinya dari perumahan menjadi pusat Bisnis. Seiring dengan pembagunan perumahan dan fisik kota Surabaya oleh Belanda maka muncul juga perumahan perumahan etnis lain antara lain :

  • Perumahan orang China di daerah tua’klenteng Hok An Kiong  tempat sembahyang orang china, daerah perumahan china ini bercirikan dekat dengan pusat dagang mereka, kembang Jepun,jalan gula,jalan slompretan dan jalan karet, baru pada tahun 1931 dibangunan rumah sederhanan untuk orang orang cina kurang mampu di daerah Simolawang.
  • Perumahan Masyarakat Arab di daerah utara Suabaya, peruamahan tersebut ditengah tengahnya terdapat masjid Ampel yang dibangun oleh sunan Ampel, yang dikenal dengan lorong lorong kecil yang terdapat di daerah tersebut.

     Pada tahun 1927 pemerintah mulai membangun perumahan untuk buruh di daerah Sidodadi,Ngaglik dan Tambak sari dan sekitar tahun 1930 mota praja mulai menyerahkan pembanguann peruamahan ke perusahaan Perumaha Rakyat, dan Pada tahun 1952 Walikota Surabaya saat itu Bapak Doel Arnowo, memprakarsai untuk membangun perumahan rakyat bagi rakyat yang rumahnya hancur akibat peran di daerah Dharma rakayta ,kapas krampung,putro Agung,Karang empat, pada tahun 1954 pemerintah membentuk yayasan untuk membangun  perumahan bagi pegawai negeri. Surabaya sudah melakukan  pemanfaatan ruang ruang kota untuk pembangunan bangunan gedung dan perumahan secara besar besaran  pada Tahun 1967 yang dikelola  oleh Yayasan kas pembangunan kotamadya Surabaya seperti pembangunan  pertama sekitar 14 ha di desa jemur andayani dan  37 ha di desa gayungan. Pada tahun 1970 sampai 1980 masa puncak pembangunan di Surabaya, saat itu dikelola oleh pihak Swasta yang dikenal denga Real estatedi Darmo Satelit  dengan 400 ha di dukuh kupang.

     Pembangunan kota pada zaman dahulu , sebelum masa industry , kota di desain atau direncanakan oleh  penguasa kota untuk kepentingannya sendiri, beberapa bangunan fisik yang dibangun hanya untuk mempertahankan kekuasaan mereka seperti benteng,bangunan bangunan untuk hunian, monument, taman kota, bangunan pemerintah dan bangunan keagamaan dibangun untuk kepentingan penguasa kota atau golongan elit pada saat itu. Berbeda dengan masyarakat biasa atau kedudukan sosialnya rendah tidak ikut campur dalam merencanakan atau membangun kota.
Dan sampai sekarang Perkembangan perencanaan kota selau terjadi perubahan sesuai keinginan penguasa saat itu, semakin kekinian peranan Pemerintah sebagai Pemilik Hak penuh mulai kehilangan kekuatan oleh Kalangan Swasta, kota ditentukan oleh Swasta dalam pembangunan.


“ Kegunaan utama suatu kota dalam kehidupan adalah menyediakan lingkungan yang kreatif bagi masyarakat untuk hidup didalamnya.dengan menarik , kota yang mempunyai kreativitas yang tinggi dan selanjutnya mempunyai kemerdekaan untuk memilih sesuatu yang dapat mengembangkan hubungan maksimal antara masyarakat dengan lingkungan kotanya". ( Lawrece Halprin )

     Proses Perencanaan (planning) dan Perancangan (design) Kota bukanlah suatu proses yang berdiri sendiri, keduanya merupakan kesatuan proses yang komprehensif dan berkesinambungan. Dimensi Planning dalam pengembangan kota sangat diperlukan sebagai suatu upaya untuk mengelola pengembangan kota dalam skala makro kota. Perancangan kota (urban design) merupakan “jembatan” antara perencanaan kota (urban planning) dan perancangan arsitektur (baik bangunan maupun ruang-ruang luar di antaranya). Dari sisi proses, urban design bukan merupakan produk akhir, namun demikian urban design akan sangat menentukan kualitas produk akhirnya yakni lingkungan  kota yang harmonis, estetis dan sustainable bagi kehidupan komunitas masyarakat penghuni, melalui konsistensi implementasinya.

     Perancangan kota pada hakekatnya merupakan pemanfaatan dan pengelolaan kawasan kota yang terpadu, yang bertujuan untuk mengupayakan terbentuknya perangkat pengendali (urban regulation) yang mampu mengantisipasi semua aspek perkembangan kota, serta dapat mempertimbangan gejala populasi dan kualitas hidup perkotaan. Saat ini lebih dari 54 persen populasi dunia tinggal di perkotaan. Diperkirakan populasi itu meningkat hingga 66 persen pada 2050. Kondisi Krisis lingkungan saat ini di perlukan  suatu gerakan yang melindungi lingkungan dari pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali . Perencanaan dan perancangan kota adalah suatu upaya terintegrasi antara aspek-aspek  planning  dan design. penelitian  tentang  konsep ataupun teori serta best practices  tentang kearifan lokal atas hasil rancangan masa lalu  melalui design review  maupun urban design practices merupakan suatu upaya dalam rangka “penyempurnaan”  pendekatan pembangunan kota.

     Perencanaan kota masa yang akan datang bukan hanya terkait dengan dengan sebuah kota tapi bagaiamana kota dengan kota lain  terkait secara nasional dan lokal. Keterkaitan antar kota dan desa dan antar kota dengan kota lainnya. Pembangunan kota direncanakan dengan melibatkan seluruh golongan social yang ada yang bertujuan adalah untuk kehidupan kota yang kompleks dapat  tertampung dalam penataan ruang ruang kota. Salah satu yang mengakibatkan kegagalan sebuah kota adalah apabila dalam merencanakan  kota tidak melibatkan warga serta tidak  menginformasikan ke warga masyarakat tentang  detail perencanaan kota yang disetujui pemerintah Daerah atau kota untuk diterapkan  , maka akan berdampak pada terjadi pemanfaatan ruang ruang kota  yang dilakukan oleh warga baik secara sendiri sendiri maupun bersama –sama untuk kepentingan mereka masing masing secara tidak terkendali. Pranata peraturan Perencanaan dan pengembangan kota yang ada saat ini seperti Rencana Tata Ruang Wilayah Kota atau Rencana Detail Tata Ruang secara substansial masih jauh dari persyaratan untuk dapat dikatakan sebagai panduan pengembangan kota secara fisik, produk panduan pengembangan kota yang ada saat ini masih berada dalam ranah perencanaan (planning). Dengan kata lain, substansi belum dapat dioperasionalkan secara optimal sebagai panduan disain.

     Sebagai sebuah produk yang berfungsi sebagai pengendali tentunya kesempurnaan suatu produk perencanaan dan perancangan kota bukan terletak hanya pada sekedar bagusnya perencanaan dan estetika produk rancangannya, tetapi bagaimana produk rancang bangun tersebut dapat diimplementasikan dengan baik dan memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya kepada kepentingan komunitas dalam mewujudkan lingkungan kota yang “ideal” serta mempertimbangkan standar WCCD-host ISO 37120 baru tentang bagaima kota akan lebih tangguh dan berkelanjutan, antara lain :

  • mempertimbangkan cuaca ekstrim dan bencana lainnya
  • kota menerapkan praktek-praktek dan kebijakan konkrit yang esensial menjadi lebih operasional, fungsional dan dapat memberikan hasil yang konkrit,.
  • penggunaan lahan untuk sekolah yang aman, fasilitas kesehatan, perlindungan ekosistem, peringatan dini dan manajemen darurat.
  • standar untuk kota tangguh dan berkelanjutan akan memberikan fasilitas fasilitas yang  penting untuk kota-kota menjadi tangguh dan dapat bermanfaat besar untuk meningkatkan kualitas hidup di kota-kota. "
  • membangun kota global yang  kreatif untuk dapat bermitra  dan belajar  belajar di kota dengan organisasi internasional, mitra perusahaan, dan akademisi membangun kota yang lebih baik dan lebih layak huni.
  • Perencana kota yang ideal bukan hanya tentang bagaiman fisik kota tapi kota bisa dilihat dari segi Ekonomi, pendidikan, energy, lingkungan Hidup, Rekreasi Keselamatan Penampungan, Telekomunikasi limbah padat dan inovasi Keuangan, pemadam kebakaran, pemerintah, kesehatan,angkutan, Perencanaan Kota, Air Limbah dan Air serta  Sanitasi

pertanyaan yang sering timbul di benak kita adalah, “Apakah perencanaan kota  yang seperti sekarang ini benar untuk semua?” Artinya, apakah tata ruang, mulai dari sistem transportasi, Ruang Terbuka Hijau (RTH), air, permukiman dan lain sebagainya, bisa dinikmati secara setara oleh semua kalangan masyarakat. Seminar ini akan membahas tentang perencanaan kota  yang lebih  fundamental, yaitu mengajak memikirkan kembali tentang perencanaan kota dalam kaitannya dengan konteks terkini. Hal  yang fundamental ini akan dimulai dengan menyajikan wacana tentang konsep perencanaan kota yang awalnya menempatkan pemerintah sebagai aktor utama dengan menempatkan warga kota/masyarakat sebagai subyek sampai dengan pergeseran pola perencanaan kota yang melibatkan pihak swasta dengan menempatkan   masyarakat   sebagai   obyek,   dan   juga membahas   peran masyarakat   dalam  perencanaan kota   itu  sendiri.

II.  TUJUAN

Tujuan BINCANG ARSITEKTUR   yang mengangkat Thema Memikirkan Kembali Perencanaan Kota Sesuai Konteks Kekinian:

  1. Memberikan pengetahuan kepada peserta tentang fenomena perencanaan kota kini yang ada di Indonesia
  2. Memberikan  pemahaman  kepada  peserta  dalam pengembangan  kota  dalam kaitannya dengan 3 pengambil keputusan: yaitu : The Privat (swasta), The Public (masyarakat), The Government(pemerintah)
  3. Memberikan pemahaman kepada peserta dalam penyelesaian berupa kebijakan yang terkait dengan perencanaan sebuah Ruang Kota

 

III. KELUARAN

Meningkatkan pengetahuan para peserta seminar terkait    Perencanaan   Ruang Kota.

IV. KEGIATAN DAN PESERTA

  • Bincang Arsitektur ini dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan Roadshow Musyawarah Nasional Ikatan Arsitek Indonesia 2015 yang   menghadirkan akademisi
  • Praktisi Profesional  yang berkompeten dalam  bidang Arsitektur dan Perkotaan.Bincang Arsitektur di Surabaya ini mengambil 1 hari ,bertempat  tempat  di  Gedung  Merah  Putih  Balai  Pemuda Jl. Gubernur Suryo No. 15 Surabaya.
Waktu Acara Pe
 07:30-08:30 Pendaftaran peserta Mahasiswa Arsitektur
 08:30-09:30 Bapak Benny Poerbantanoe Pengraha Bincang :
  "Peran Pemerintah dalam Perencanaan pada Konteks Kekinian" Freddy H Istanto
 09:30-10:30 Bapak Sugeng Gunadi Pengarah Bincang :
  "Arsitek dan Arsitektur dalam Membangun Kota" Freddy H Istanto
 10:30-11:30 Bapak Budiman Hendopurnomo Pengarah Bincang : 
  Swasta dalam Menggunakan Ruang-ruang di dalam Kota Freddy H Istanto
 11:30-14:00 Tanya Jawab Moderator

DOKUMEN :

Filename Filesize Date
SURABAYA KAK BINCANG ARSITEKTUR.docx (26 downloads) 178.7 kB 2015-05-22