Komentar Juri Penghargaan IAI 2008

Berikut adalah sebuah catatan penjurian Penghargaan IAI Nasional 2008 oleh ketua dewan juri:

Berharap Pada Award

sebuah catatan penjurian karya2 nominasi periode 2008

A relativist and  relational sense of pluralism of cultural values makes it possible to perceive the diverse social ,ethical and philosophical ‘grounds’ ( or foundations) on which systems of cultural and historical value are constructed in relation to each other’s differences and specificities. Such a relational sense of cultural value – based on cultural difference and intercultural dialogue-is far better suited to a global ethic of inter-regional and transnational connection than to a normative, regulative idea of Progress that imposes a reign of homogeneity and hierarchy over other cultures and societies.

Homi K.Bhabha (Architecture and Thought ,  Intervention Architecture ,Building for Change ,Aga Khan Award for Architecture 2007)

Pemikiran arsitektur di belahan dunia yang lain bergumul dengan berbagai issue besar, tentang keragaman budaya , krisis lingkungan, inovasi teknologi atau juga bagaimana kaum praktisi ini dapat tetap hadir berarsitektur dalam ‘tekanan’ pemilik modal untuk mewujudkan idealisme sosialnya , dan banyak lagi.

Praktek arsitektur di kota besar Indonesia (dominasi Jakarta masih sangat nyata) tampaknya masih berjalan nyaman pada ranah ekplorasi estetik ataupun upaya menggapai pencapaian wadah visual yang sensasional demi kepuasan kalangan atas . Tentu ini tidak serta merta dipersalahkan.

Hanya kemudian ketika media mengkomunikasikan bagi khalayak yang lebih luas, tanpa ada kajian kritis yang menyertainya, maka trend metropolitan ini segera di serap dan diadopsi oleh kota2 didaerah sebagai kebenaran dan barometer kemajuan berasitektur. Wajah kota2 di Indonesia pun menjadi nyaris seragam.

Proses produksi/perancangan design dengan menggunakan software yang sama ternyata juga ikut andil membagikan serta menyeragamkan ‘bahasa’ estetika arsitektur masa kini. Secara sinis kemudian ada istilah arsitektur copy and paste.

Dalam situasi yang hampir tanpa informasi atas adanya jenis produksi arsitektur  yang lain di Indonesia nan raya dan kaya budaya ini, perhelatan besar pemberian penghargaan arsitektur ini digelar.

Tentu kemudian pertanyaan besarnya adalah, demi apa penghargaan ini diberikan ?

Dan kemudian diikuti oleh pertanyaan lain seperti mengapa hanya di dominasi Jakarta dan Bandung, apakah ini mewakili wajah keindonesiaan kita? Mengapa nominasi dari daerah sedemikian minim?

Kemudian juga terngiang kata Oscar Niemeyer : “Architecture is not important; what is important is the life that we shape, influence and create by architectural means”.

Bagaimana ‘mengukur’ pencapaian2 karya arsitektur itu? apa yang harus diukur? apakah tepat menilai rumah sederhana bersanding kompetisi dengan bangunan dengan budget besar, atau juga kecanggihan teknologi industri memang lebih mulia dari kesederhanaan tukang2 dipinggiran?

Pemikiran ini merupakan bahan perbincangan hangat diantara para juri di awal2 pembahasan berkait dengan bagaimana menyelesaikan amanat dari organisasi ini.

Pada akhirnya kita kemudian menyadari bahwa memang selalu ada keterbatasan.

Namun tidak juga berarti bahwa pemberian penghargaan ini menjadi sia-sia. Paling tidak, ada keinginan untuk menyapa dan mengungkapkan bahwa ternyata ada pencarian yang telah dilakukan lewat karya2 tersebut. Diyakini bahwa peran mediasi arsitek masih sangat diperlukan.

Kemudian tugas juri disadari bahwa lebih dari sekedar ‘memilih’ para juara yang patut di hargai, namun juga adalah ‘menemu kenali’ kualitas tersembunyi dalam karya2 itu. Tentulah ini tidak mudah,mengingat bahwa arsitektur haruslah dialami langsung,dan betapapun bagusnya foto tetaplah itu keadaan yang tereduksi. Namun beruntunglah ada juri2 yang secara cermat telah mengunjungi sebagian besar karya2 tersebut.

Sekalipun mungkin benar ini tidak menggambarkan keadaan Indonesia masa kini dengan utuh, namun setidaknya ada semangat untuk berharap atas terwujudnya keadaan yang lebih baik lewat munculnya karya2 yang semakin berbobot.

Penghargaan ini juga dimaksudkan untuk menganyam lagi nilai2 idealistik yang masih harus kita wujudkan bersama.

Keberadaan juri international diharapkan juga memberikan makna lebih bagi penerima penghargaan karya tahun ini. Dimensi nilai yang melampaui wilayah geografis diharapkan juga tercermin dalam karya2 tersebut.

Penghargaan kali ini tidak semata mengikuti typology bangunan sebagai kategori. Melainkan lebih pada persoalan yang mengemuka dalam tarik menarik antara keterbatasan dan peluang ,serta kemudian pencapaian akhir yang ditunjukkan lewat karya.

Pilihan criteria kemudian lebih di fokuskan pada interaksi yang dinamis dari stake holders demi munculnya karya yang dinilai memiliki kandungan lebih. Tentulah ini akan juga relatif. Ingin juga mengingatkan bahwa karya arsitektur adalah hasil kerja kolaboratif, sebagai upaya menganyam nilai2 kreativitas serta inovasi,serta kepedulian terhadap konteks sosial maupun budaya.

Arsitek memang sebagai figure yang relatif sentral namun bukan pemain tunggal, klien juga memiliki peran signifikan bagi munculnya karya arsitektur yang berbobot.

Hal ini juga ingin ditandai dalam pemberian penghargaan tahun ini.

Pada saat kehidupan sudah terfragmentasi sedemikian lanjut,maka yang tertinggal adalah serpihan2 yang masing2 seolah lepas, seolah semua bisa benar. Namun jika kemudian akhirnya karya arsitektur hanyalah menjadi karya yang self referential, sempurna pada dirinya sendiri maka pemberian penghargaan juga tidak bermakna.

Makna haruslah juga di rekatkan pada kehidupan bersama,pada membangun kepercayaan dan semangat bahwa ada sesuatu yang kita akui secara bersama sebagai suatu yang dianggap baik.

Semangat inilah yang hendaknya dihidupkan dan dilanjutkan.

Eko Prawoto

(ketua dewan juri IAI award nasional 2008)

 


Johannes Widodo,

 

  1. secara umum munculnya banyak generasi muda arsitek indonesia dengan hasil karya yang menarik dan kontekstual cukup membesarkan hati, terutama dengan mulai muncul karya-karya arsitek dari luar Jakarta/Bandung.
  2. Inovasi dan keberanian untuk ber-eksperimen perlu lebih ditingkatkan, terutama menyangkut tektonika, material, struktur & teknologi, yang cocok dengan konteks iklim, ekonomi dan tradisi Indonesia/lokal.
  3. Proses pendewasaan arsitektur Indonesia seharusnya sudah masuk ke tahap yang lebih tinggi, lebih dari sekedar meniru dan menghasilkan karya-karya generik, tetapi karya-karya yang inspiratif dan kritis. Demi merangsang debat, apresiasi masyarakat, dan partisipasi publik demi ber-arsitektur.

Eko Prawoto,

Ber-arsitektur adalah lebih dari produksi karya, tetapi adalah juga membangun wacana. Bangunan yang dikreasikan akan juga bermakna memberi kesaksian atas semangat zaman. Karya-karya yang diikutkan dalam proses seleksi ini tentu tidak memberikan gambaran sepenuhnya situasi kreasi dan produksi arsitektur di Indonesia saat ini. Namun paling tidak dari karya-karya yang dimasukan tersebut dapat di garis bawahi serta dimaknai bagi kepentingan wacana yang dibangun.

Berbagai persoalan kehidupan yang digumulkan oleh para arsitek tersebut, dicoba diapresiasi dan ditemu-kenali oleh juri.

Kiranya ini dapat memberikan inspirasi serta meneguhkan pencarian bagi kemajuan arsitektur Indonesia kedepan.

Sonny Sutanto,

  1. Sebuah cara kategorisasi yang unik, tidak berdasarkan “building types”.
  2. Terlibat perubahan, mengarah pada perhatian yang lebih positif tentang isu lingkungan, penggunaan energi, walaupun beberapa masih belum betul-betul diterapkan dalam strategi desain sehingga terkesan agak “kosmetik”.
  3. Perhatian terhadap isu tropikalitas cukup merata, namun perhatian terhadap lokalitas metode berkonstruksi, bahan dan alat serta pemanfaatan sumberdaya lokal masih minim.

Budi Lim,

Standar participant IAI award nasional 2008 dirasa sangat baik dan beragam. Terlihat arsitek-arsitek diseluruh Indonesia terlihat pada projek-projek yang beragam. Dalam kondisi dan batasan-batasan yang menantang arsitek maupun berkreasi secara cemerlang.

Bert De Muynck,

To whom it may concern,

It is my belief that the architects and projects selected in the context of the architecture & project category have managed in each of their project, to combine a unique architectural language with a strong sensibility for the location. Each of these architects has combined the best of their experience with the constraints of the context, whether this is the climate, the plot, budget of cultural demands. Although diverse, the projects selected in the context and client category each focus on topics that will gain further importance in the future, whether these deal with affordable housing for the poor, environmentally concerns or mobility more important than the style of the architecture itself. It is the innovation and support these projects get whether these are by clients. The architects have proven to find intelligent solutions in a demanding context and added a surplus value to it. The projects selected in the cultural & regional category re-interpret the local context and brings these in relation with demands of modern times.

It is my hoped that this selection is a stimulus for architects and clients to invest in innovation and new ways of living and mobility without loosing sense of context. It is my belief that the architects awarded in the category “architect and projects” combine in their practice a sensibility for the demands of their clients, culture, context and offer innovative projects in a difficult context. These architects should get more opportunities.