Dari Quo Vadis Profesi Arsitek menuju Singularitas Etika Digital
Dalam tulisan sebelumnya berjudul Quo Vadis Praktik Profesi Arsitek Indonesia, saya mencoba merefleksikan sebuah pertanyaan sederhana namun mendasar: ke mana arah praktik profesi arsitek Indonesia di tengah perubahan besar yang sedang terjadi dalam dunia arsitektur dan lingkungan binaan.
Perubahan tersebut tidak hanya disebabkan oleh perkembangan teknologi desain atau metode konstruksi, tetapi juga oleh transformasi yang jauh lebih mendasar dalam cara kerja manusia, cara berkolaborasi, serta cara memproduksi pengetahuan dan kreativitas. Dunia profesi yang selama puluhan tahun dibangun di atas relasi langsung antara arsitek, klien, dan proyek kini mulai bergerak menuju ekosistem baru yang semakin digital, terhubung secara global, dan dimediasi oleh teknologi.
Dalam ekosistem baru ini, praktik arsitektur tidak lagi hanya berlangsung di studio desain atau di ruang rapat proyek. Praktik arsitektur kini berlangsung di dalam jaringan kolaborasi digital, di dalam platform berbasis data, dan semakin sering melibatkan sistem algoritmik yang mampu menghasilkan alternatif desain secara otomatis. Kehadiran kecerdasan buatan, komputasi generatif, serta sistem kolaborasi berbasis cloud secara perlahan mengubah struktur kerja profesi arsitek.
read more
Ar. Georgius Budi Yulianto, IAI, AA
Ketua Umum 2024-2027