Catatan Ketua Umum
23 oktober 2026
Kebakaran Hutan, Perubahan Iklim, dan Respons Keberlanjutan Berpijak pada Semangat Barefoot Architecture
Setiap kali hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada ruang hidup yang rusak, penghidupan yang terganggu, serta hubungan antara manusia dan lingkungannya yang ikut terkoyak. Asap yang melintasi wilayah memperlihatkan bahwa dampak kerusakan ekologis tidak pernah berhenti pada batas administratif. Bagi kita, para arsitek, keadaan ini menghadirkan pertanyaan mendasar: sejauh mana cara kita merencanakan dan membangun telah memperhitungkan keberlanjutan kehidupan yang ditopangnya?
Kebakaran hutan perlu dipahami melalui hubungan antara kondisi alam, perubahan iklim, dan tindakan manusia. Peningkatan panas serta kekeringan dapat memperbesar kondisi yang mendukung terjadinya dan meluasnya kebakaran. Pada saat yang sama, penggunaan lahan, pengelolaan kawasan, dan sumber penyalaan ikut menentukan risikonya. IPCC menegaskan bahwa perubahan iklim semakin berperan dalam dinamika kebakaran bersama aktivitas manusia. Karena itu, persoalan ini membutuhkan pembacaan yang utuh, dengan memahami hubungan antara iklim, bentang alam, dan keputusan pembangunan. (ipcc.ch)
Baik kebakaran yang disengaja maupun tidak disengaja, dampaknya harus menjadi salah satu aspek yang dimitigasi dalam perencanaan lingkungan binaan. Kita telah memberi perhatian pada risiko gempa bumi, banjir, longsor, dan berbagai bencana hidrometeorologi. Perhatian yang sama perlu diberikan pada kebakaran hutan dan lahan, sesuai dengan karakter serta tingkat kerawanan setiap wilayah. Kesengajaan menyangkut tanggung jawab dan penegakan hukum, sedangkan kesiapan lingkungan binaan menyangkut keselamatan manusia. Keduanya harus berjalan beriringan.
Di sinilah desain arsitektur harus mengambil peran. Bangunan selalu menjadi bagian dari suatu bentang alam, sehingga keselamatannya perlu dibaca melalui hubungan dengan lingkungan di sekitarnya. Pada kawasan yang berdekatan dengan hutan atau lahan rawan kebakaran, penilaian risiko harus memengaruhi keputusan mengenai lokasi, tata massa, pengelolaan vegetasi, sistem konstruksi, akses pertolongan, dan jalur evakuasi. Pilihan tersebut perlu disusun bersama keahlian lain serta pengetahuan masyarakat setempat. Keselamatan tidak cukup ditambahkan melalui perangkat darurat setelah rancangan selesai; ia harus membentuk rancangan sejak awal.
Peran itu juga mencakup perlindungan terhadap dampak yang menjangkau kawasan lebih luas, seperti paparan asap. Rumah dengan penghawaan alami yang baik pada keadaan sehari-hari perlu memiliki cara untuk melindungi penghuninya ketika kualitas udara luar memburuk. Demikian pula, strategi menghadapi panas, hujan ekstrem, banjir, atau gempa harus mempertimbangkan kemungkinan risiko yang saling bertemu. Hal ini mengajarkan bahwa prinsip desain perlu diterapkan secara kontekstual. Sebuah solusi harus dinilai berdasarkan tempat, kondisi penggunaan, dan kemampuan pengelolaannya.
Pemahaman tersebut membawa kita pada pertanyaan berikutnya: bagaimana selama ini kita memaknai bangunan hijau? Saya melihat percakapan mengenai green building masih terlalu sering berpusat pada bangunan besar dan bertingkat tinggi, teknologi yang menyertainya, serta sertifikasi yang berhasil diperoleh. Sertifikasi memiliki peran penting untuk mengukur kinerja dan mendorong pertanggungjawaban. Namun, jika perhatian kita berhenti pada pencapaian itu, rumah-rumah masyarakat berisiko berada di pinggir agenda keberlanjutan.
Padahal, di dalam rumah masyarakatlah keberlanjutan diuji setiap hari. Apakah ruang memperoleh cahaya dan udara yang cukup? Apakah penghuni terlindungi dari panas, hujan, dan risiko bencana? Apakah air tersedia dan dikelola dengan baik? Apakah biaya energi, perbaikan, dan pemeliharaannya dapat ditanggung keluarga? Pertanyaan-pertanyaan ini menempatkan keberlanjutan sebagai pengalaman hidup yang nyata. Keberhasilan bangunan hijau semestinya juga terlihat dari semakin luasnya masyarakat yang dapat merasakan manfaat tersebut.
Dalam konteks inilah semangat barefoot architecture menjadi relevan. Melalui The Barefoot Architect: A Handbook for Green Building, Johan van Lengen menghadirkan pengetahuan tentang perancangan, iklim, tapak, material, air, dan pembangunan yang dekat dengan kebutuhan dasar kehidupan. (shelterpub.com) Saya memaknai semangat itu sebagai kesediaan arsitek untuk kembali berpijak: memahami tempat, mengenali sumber daya, mendengarkan masyarakat, serta menerjemahkan pengetahuan menjadi keputusan yang dapat mereka jalankan.
Berpijak menuntut sikap kritis terhadap pengetahuan lokal maupun teknologi masa kini. Cara masyarakat menaungi ruang, mengalirkan udara, menampung air, dan memperbaiki rumah merupakan sumber pembelajaran yang berharga. Pengetahuan tersebut perlu dipertemukan dengan ilmu bangunan, pengujian material, serta standar keselamatan. Material alami tetap harus dinilai ketahanan, kebutuhan perawatan, dan perilakunya terhadap api. Material lokal pun perlu ditelusuri sumber serta cara pengambilannya. Kedekatan dengan alam harus diwujudkan melalui pertanggungjawaban yang dapat diperiksa.
Dengan demikian, keberlanjutan mencakup dua tanggung jawab yang saling melengkapi: mengurangi dampak pembangunan terhadap lingkungan dan memperkuat kemampuan manusia menghadapi risiko. Rumah yang hemat energi tetap membutuhkan keselamatan struktur dan kebakaran. Bangunan yang tangguh juga perlu memperhitungkan konsumsi sumber daya serta biaya sepanjang penggunaannya. Arsitektur bertugas mempertemukan kebutuhan-kebutuhan tersebut dalam rancangan yang sesuai dengan kemampuan masyarakat.
Tanggung jawab ini dimulai bahkan sebelum kita memutuskan untuk membangun. Apakah lokasi tersebut layak dikembangkan? Seberapa besar intervensi yang dapat ditanggung lingkungannya? Dapatkah bangunan yang ada dimanfaatkan kembali? Bagian mana yang perlu dipertahankan untuk menjaga fungsi ekologis? Kemampuan menjawab pertanyaan itu merupakan bagian dari kecakapan profesional. Membatasi luasan, mengurangi pembukaan lahan, dan memilih sistem yang mudah dirawat dapat menjadi keputusan desain yang bernilai besar bagi kehidupan jangka panjang.
Bagi IAI, pemahaman ini perlu memperoleh tempat yang semakin kuat dalam pendidikan, pengembangan kompetensi, advokasi, dan pengabdian profesi. Literasi iklim serta kebencanaan harus terhubung dengan kemampuan merancang rumah dan lingkungan yang terjangkau. Pengalaman pendampingan masyarakat, termasuk melalui IAI HADIR, perlu terus menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mengurangi kerentanan. Pengetahuan profesi memperoleh makna sosial ketika dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih baik mengenai ruang hidupnya.
Kebakaran hutan mengingatkan kita bahwa keselamatan bangunan dan kesehatan lingkungan berada dalam satu hubungan yang tidak terputus. Dari hutan hingga permukiman, dari keputusan penggunaan lahan hingga detail sebuah rumah, selalu ada konsekuensi yang perlu kita pahami. Semangat barefoot architecture mengajak kita menjaga kedekatan itu: maju dalam pengetahuan, cermat dalam tindakan, dan peka terhadap kehidupan sehari-hari. Keberlanjutan akan tumbuh kuat ketika berakar pada rumah masyarakat, dirasakan manfaatnya, dan menjadi bagian dari cara kita membangun.